Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Tuesday, 8 November 2016

Inilah Fakta yang Belum Anda Ketahui Tentang Ramen

Inilah Fakta yang Belum Anda Ketahui Tentang Ramen

Mie ramen punya penggemar dari seluruh dunia, disebabkan rasanya yang memang lezat dan pas dikonsumsi untuk berbagai kesempatan. Banyak yang mengira bahwa hidangan berkuah itu asalnya dari Jepang, padahal sebenarnya bukan lho.

Anda juga salah satu fans mie ramen? Yuk simak fakta tentang makanan lezat tersebut seperti dilansir laman Soshiok.com berikut ini:

Asli China

Ramen yang sering muncul di film Jepang ternyata asli dari China. Menurut asal muasalnya, pedagang China yang membawa budaya makan ramen ke Jepang pada awal abad 19 hingga akhirnya jadi populer seperti sekarang.

Jenisnya banyak

Mie ramen ternyata punya banyak jenis variasi, bahkan tiap daerah di Jepang punya resep andalan yang khas. Di Sapporo, mie ramennya menggunakan sup miso, berbeda dengan di Tokyo yang memakai mie bergelombang dan kuah kaldu ayam.

Rasa umami

Rasa umami adalah rasa gurih yang khas, dan ini membuat ramen jadi lebih lezat. Bahan untuk membuat rasa umami adalah kecap asin, dan beberapa bahan rahasia lain.

Toppingnya beragam

Jika kita lihat penyajian ramen, maka yang membedakannya adalah topping. Ada yang ditaburi irisan daging, daun bawang, telur mentah, rumput laut, dan lainnya. Tentu masing-masing akan menjadikan rasa ramen makin lezat dan unik.

Makannya diseruput

Makan ramen yang tepat adalah dengan mangkuk, sumpit, dan menyeruput kuahnya perlahan.

“Untuk menikmati sebuah ramen, Anda harus mengetahui cara slurp yang benar,” ungkap Yuji Matsumoto, ahli ramen.

Dekatkan mangkuk, lalu ambil sedikit mie dengan sumpit, lalu slurp agar kuahnya ikut juga. Di Jepang, bunyi sruput saat makan ramen biasanya sengaja dikeraskan. Ini untuk menunjukkan bahwa ramennya enak.

sumber

Thursday, 16 June 2016

Hotel Indonesia Berbintang 5 yang Pertama Kali di Asia Tenggara

Hotel Indonesia Berbintang 5 yang Pertama Kali di Asia Tenggara
Hotel Indonesia sendiri adalah sebuah hotel di Jakarta berbintang 5 yang pertama kali didirikan di Indonesia untuk menyambut Asian Games ke-empat yang digelar di Jakarta.

Hotel ini pertama kali diresmikan oleh presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno pada tahun 1962 berpapasan dengan pembukaan Asian Games ke-empat.

Hotel Indonesia juga telah dijadikan warisan budaya oleh pemerintah DKI dan sempat mengalami pemugaran dan peralihan pengurusan.

Di depan Hotel Indonesia Kempinski, terdapat bundaran HI yang terkenal membuat nuansa indah saat di malam hari ketika menginap di Hotel Indonesia.

Pelayanan yang memuaskan untuk para tamu yang berkunjung adalah hal utama yang di prioritaskan saat di sini.

Oleh karena itu di Hotel Indonesia disediakan banyak sekali fasilitas yang disediakan saat tamu berkunjung, seperti fasilitas ruang bisnis dan rapat bagi tamu yang
punya agenda untuk bertemu dengan rekan kerja yang ditunjang dengan berbagai fasilitas yang lengkap.

Di sini juga tersedia fasilitas kesehatan yang dapat digunakan untuk menjaga kesehatan para tamu serta spa yang bisa digunakan setelah melakukan olahraga di gym.

Untuk kemudahan mobilitas setiap pengunjung, disediakan juga wi-fi gratis di seluruh area hotel dengan kecepatan yang tinggi.

Maka tak salah jika Hotel Indonesia merupakan hotel bintang 5 di Jakarta yang terbaik, meskipun dengan harga yang fantastis tentunya sesuai dengan kualitas pelayanan yang diberikan.

Monday, 13 June 2016

Sejarah dan Cerita penciptaan Angklung budaya asli Nusantara

Sejarah dan Cerita penciptaan Angklung budaya asli Nusantara
Bandung, yang berada di tanah parahyangan erat kaitannya dengan kesenian tradisi sunda dimana terdapat bermacam-macam alat kesenian yang diwariskan salah satu diantaranya alat kesenian tradisi sunda yang dinamakan sebagai angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung, dimana calung dikenal sebagai alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Sejarah Angklung

Sejarah Angklung



Sejak kapan angklung muncul masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun, ada angklung tertua yang usianya sudah mencapai 400 tahun. Angklung tersebut merupakan Angklung Gubrag yang dibuat di Jasinga, Bogor, Jawa Barat. Di Serang, angklung jenis ini dianggap sebagai alat musik sakral yang digunakan saat mengiringi mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah penyakit.

Angklung memang dikenal berasal dari Jawa Barat. Namun, di beberapa daerah di Indonesia juga ditemukan alat musik tradisional tersebut. Di Bali, angklung digunakan pada saat ritual Ngaben. Di Madura, angklung digunakan sebagai alat musik pengiring arak-arakan. Sementara di Kalimantan Selatan angklung digunakan sebagai pengiring pertunjukan Kuda Gepang. Sejarah mencatat bahwa di Kalimantan Barat juga terdapat angklung, tapi menurut beberapa tokoh kebudayaan, angklung tersebut tidak ada lagi.

Pada 1938, Daeng Soetigna menciptakan angklung yang didasarkan pada suara diatonik. Selain sebagai pengiring mantera, awalnya, angklung digunakan untuk upacara-upacara tertentu, seperti upacara menanam padi. Namun, seiring dengan berkembangnya alat musik ini, angklung digunakan dalam pertunjukan kesenian tradisional yang sifatnya menghibur.

Pada masa penjajahan Belanda, angklung menjadi alat musik yang membangkitkan semangat nasionalisme penduduk pribumi. Karena itu, pemerintah Belanda melarang permainan angklung, kecuali jika dimainkan oleh anak-anak dan pengemis karena dianggap tidak memberikan pengaruh apa pun.

Setelah mengalami pasang surut, Daeng Soetigna berhasil menaikkan derajat alat musik angklung. Bahkan, angklung diakui oleh seorang musikus besar asal Australia Igor Hmel Nitsky pada 1955. Angklung dengan suara diatonis yang diciptakan oleh Daeng membuat angklung turut diakui pemerintah sebagai alat pendidikan musik.

Sepeninggal Daeng Soetigna, angklung dikembangkan lagi berdasarkan suara musik Sunda, yaitu salendro, pelog, dan madenda. Orang berjasa yang mengembangkannya adalah Udjo Ngalagena. Udjo yang merupakan salah seorang murid Daeng Soetigna ini mengembangkan alat musik angklung pada 1966.

Sebagai wujud mempertahankan kesenian angklung, Udjo atau biasa dikenal Mang Udjo membangun pusat pembuatan dan pengembangan angklung. Tempat tersebut diberi nama “Saung Angklung Mang Udjo”. Lokasinya berada di Padasuka, Cicaheum, Bandung. Di tempat ini, seringkali diadakan pertunjukan kesenian angklung. Pengunjung yang hadir dapat ikut serta mencoba belajar memainkan alat musik tersebut.

Rekor Dunia Angklung
2011-07-11

Indonesia berhasil menggalang pembuatan rekor dunia “Guinness World Records” permainan angklung dengan peserta multibangsa terbanyak setelah lebih dari 5.000 orang mampu memainkan lagu “We Are the World” di Washington DC, Amerika Serikat.

Wednesday, 10 February 2016

Daftar Gambar Senjata Tradisional Indonesia

Mungkin anak muda zaman sekarang sudah langka yang tertarik dengan kebudaya negara tercinta Indonesia ini. Karena kebanyakan dari mereka terlalu sibuk dengan urusan seperti pacaran, ke salon, shoping, nonton atau yang lainnya.

Namun jika bukan kita sebagai anak muda, siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan Indonesia minimal mengetahui kebudayaan masing-masing. Berikut adalah gambar dan nama senjata tradisional dari 33 provinsi di Indonesia.

Provinsi Nanggro Aceh Darussalam - Senjata Tradisional : Rencong
Provinsi Sumatera Utara - Senjata Tradisional : Piso Surit, Piso Gaja Dompak


Provinsi Sumatera Utara - Senjata Tradisional : Piso Surit, Piso Gaja Dompak

Provinsi Sumatera Barat - Senjata Tradisional : Karih, Ruduih, Piarit

Provinsi Sumatera Barat - Senjata Tradisional : Karih, Ruduih, Piarit

Provinsi Riau - Senjata Tradisional : Pedang Jenawi, Badik Tumbuk Lado
Provinsi Riau - Senjata Tradisional : Pedang Jenawi, Badik Tumbuk Lado
Provinsi Kep. Riau - Senjata Tradisional : Pedang Jenawi, Badik Tumbuk Lado


Provinsi Kep. Riau - Senjata Tradisional : Pedang Jenawi, Badik Tumbuk Lado
Provinsi Kep. Riau - Senjata Tradisional : Pedang Jenawi, Badik Tumbuk Lado


Provinsi Jambi - Senjata Tradisional : Badik Tumbuk Lada



Provinsi Sumatera Selatan - Senjata Tradisional :Tombak Trisula
Provinsi Sumatera Selatan - Senjata Tradisional :Tombak Trisula


Provinsi Bangka Belitung - Senjata Tradisional :Siwar Panjang
Provinsi Bangka Belitung - Senjata Tradisional :Siwar Panjang


Provinsi Bengkulu - Senjata Tradisional : Kuduk, Badik, Rudus
 Provinsi Bengkulu - Senjata Tradisional : Kuduk, Badik, Rudus

Provinsi Lampung - Senjata Tradisional :Terapang, Pehduk Payan
Provinsi Lampung - Senjata Tradisional :Terapang, Pehduk Payan

Provinsi DKI Jakarta - Senjata Tradisional :Badik, Parang, Golok




Provinsi Jawa Barat - Senjata Tradisional : Kujang
Provinsi Jawa Barat - Senjata Tradisional : Kujang

Provinsi Banten - Senjata Tradisional : Kujang
Provinsi Banten - Senjata Tradisional : Kujang

Provinsi Jawa Tengah - Senjata Tradisional : Keris

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - Senjata Tradisional : Keris Yogya
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - Senjata Tradisional : Keris Yogya


Provinsi Jawa Timur - Senjata Tradisional : Clurit
 Provinsi Jawa Timur - Senjata Tradisional : Clurit

Provinsi Bali - Senjata Tradisional : Keris
Provinsi Bali - Senjata Tradisional : Keris

Provinsi Nusa Tenggara Barat - Senjata Tradisional : Keris, Sampari, Sondi
Provinsi Nusa Tenggara Barat - Senjata Tradisional : Keris, Sampari, Sondi


Provinsi Nusa Tenggara Timur - Senjata Tradisional : Sundu
Provinsi Nusa Tenggara Timur - Senjata Tradisional : Sundu


Provinsi Kalimantan Barat - Senjata Tradisional :Mandau
Provinsi Kalimantan Barat - Senjata Tradisional :Mandau



Provinsi Kalimantan Tengah - Senjata Tradisional : Mandau, Lunjuk Sumpit Randu
Provinsi Kalimantan Tengah - Senjata Tradisional : Mandau, Lunjuk Sumpit Randu


Provinsi Kalimantan Selatan - Senjata Tradisional : Keris, Bujak Beliung
Provinsi Kalimantan Selatan - Senjata Tradisional : Keris, Bujak Beliung


Provinsi Kalimantan Timur - Senjata Tradisional : Mandau
Provinsi Kalimantan Timur - Senjata Tradisional : Mandau


Provinsi Sulawesi Utara - Senjata Tradisional : Keris, Peda, Sabel


Provinsi Sulawesi Barat - Senjata Tradisional :Tombak
Provinsi Sulawesi Barat - Senjata Tradisional :Tombak

Provinsi Sulawesi Tengah - Senjata Tradisional : Pasatimpo
 Provinsi Sulawesi Tengah - Senjata Tradisional : Pasatimpo


Provinsi Sulawesi Tenggara - Senjata Tradisional : Keris
Provinsi Sulawesi Tenggara - Senjata Tradisional : Keris


Provinsi Sulawesi Selatan - Senjata Tradisional : Badik
 Provinsi Sulawesi Selatan - Senjata Tradisional : Badik


Provinsi Gorontalo - Senjata Tradisional :Wamilo
Provinsi Gorontalo - Senjata Tradisional :Wamilo


Provinsi Maluku - Senjata Tradisional : Parang Salawaki / Salawaku, Kalawai
Provinsi Maluku - Senjata Tradisional : Parang Salawaki / Salawaku, Kalawai


Provinsi Papua Barat - Senjata Tradisional :Busur dan Panah
 Provinsi Papua Barat - Senjata Tradisional :Busur dan Panah


Provinsi Papua - Senjata Tradisional :Pisau Belati
Provinsi Papua - Senjata Tradisional :Pisau Belati


Monday, 2 November 2015

Profile Mohamad Toha, Pahlawan Bandung Lautan Api

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, yaitu Bandung Lautan Api. Peristiwa yang membumihanguskan kota Bandung, berlatar belakang ultimatum sekutu. Kejadian itu hampir berlangsung selama tujuh jam, di mana kurang lebih dua ratus ribu masyarakat Bandung meninggalkan dan membakar rumah-rumah mereka serta fasilitas-fasilitas publik. Nah, dari kejadian itu kita menemukan sosok seorang tokoh di balik Bandung Lautan Api yang sangat fonomenal yaitu Mohammad Toha atas keberanian dan semangat juang akan membela tanah air Indonesia.



Pejuang Itu Bernama Mohammad Toha

Muhammad Toha


Mohammad Toha dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya Nariah yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor. Pada umur 2 tahun toha sudah menjadi anak yatim dikarenakan pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Toha sempat bersekolah di Volk School (Sekolah Rakyat) sejak usia 7 tahun hingga menginjak kelas 4 SD sebelum akhirnya terpaksa berhenti karena Perang Dunia II.

Panggilan Perang Pun Tiba

Bandung Lautan Api

Setelah Indonesia merdeka, Toha terpanggil untuk bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakjat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh pamannya, Ben Alamsyah. BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncar menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam barisan ini, Toha menjadi Komandan Seksi I Bagian Penggempur.

Pejuang Itu Pun Gugur

Panggilan Perang Muhammad Toha


Pada tangggal 24 Maret 1946, Toha bersama anggota lainnya akan memperkuat militer Indonesia pada peristiwa Bandung Lautan Api. Bersama Ramdan, sahabatnya yang juga anggota BBRI, Toha menjalankan tugas untuk meledakkan gudang amunisi persenjataan Inggris. Ledakan yang dihasilkan lebih besar dari yang diperkirakan dan menewaskan keduanya. Atas gugurnya Toha dalam misi membela bangsa dan negara, Toha pun diangkat menjadi pahlawan nasional dan namanya diabadikan sebagai nama jalan di daerah selatan Bandung.

Mohammad Toha adalah sosok seorang pemuda yang cerdas, patuh kepada orang tua, memiliki disiplin yang kuat serta disukai oleh teman-temannya. Pada tahun 1945, Mohammad Toha digambarkan sebagai seorang pemuda yang pemberani dengan tinggi 1,65m, berwajah lonjong dengan pancaran mata yang tajam.

Namamu Akan Selalu Ku Kenang

Monumen Muhammad Toha

Mohammad Toha akan selalu kita kenang akan semangat juang dan kegigihan dalam membela bangsa dan negara. Toha meninggal dunia dalam usia yang masih muda yaitu pada usia 19 tahun. Namun, namanya akan selalu dikenang oleh seluruh generasi bangsa Indonesia sebagai sosok pahlawan yang mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air tercinta.

Dimana kita mengenang peristiwa Bandung Lautan Api ini, mari kita juga mengenang salah seorang tokoh yang gugur dalam perjuangan membela tanah air, yaitu Mohammad Toha. Semoga, rasa cinta tanah air dan semangat akan membela tanah air dari seorang Mohammad Toha bisa hadir ke dalam tubuh kita dan mengakar di dalam diri sebagai generasi-generasi penerus bangsa Indonesia kelak di masa depan.

sumber

Wednesday, 16 September 2015

Tempat Malin Kundang Dikutuk Jadi Batu oleh Sang Ibu

Para pecinta jalan-jalan mungkin pernah mendengar atau menginjakkan kaki di pantai unik yang satu ini, Pantai Air Manis. Pantai Air Manis terletak sekitar 15 km dari pusat kota Padang, Sumatera Barat.

Selain panorama yang indah, pantai ini memiliki daya tarik lain yang kerap membuat para turis penasaran. Di Pantai Air Manis terdapat batu-batu yang menyerupai Malin Kundang dan beberapa perlengkapan kapalnya.

Karena itulah, masyarakat Sumatera Barat dan para pelancong yang datang sering mengaitkan pantai ini dengan legenda Malin Kundang.

Malin Kundang adalah karakter dalam dongeng yang berubah menjadi batu bersama-sama dengan kapalnya, setelah durhaka kepada sang ibu.

Berdasarkan cerita, Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh sang ibu karena menolak mengakui ibunya yang miskin setelah berlayar ke daerah lain dan sukses menjadi saudagar kaya.

Hingga kini, batu Malin Kundang dapat dijumpai di Pantai Air Manis. Menariknya, masyarakat setempat mengatakan batu yang persis Malin Kundang itu terbentuk secara natural, bukan hasil rekayasa manusia.

Keunikan dan misteri batu inilah yang kemudian membuat Pantai Air Manis populer, baik di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Selain batu Malin Kundang, pantai ini banyak difavoritkan karena memiliki gelombang yang rendah dan dilatari pemandangan indah Gunung Padang.

Thursday, 3 September 2015

Sejarah Huruf Arab Dalam Uang Koin Indonesia

Sejarah Huruf Arab Dalam Uang Koin Indonesia
Seorang pria bernama Adkhilni M. Sidqi dalam akun facebooknya bercerita tentang koin Indonesia bernialai 25 sen tahun 1952 yang ia temukan di Damaskus, Syria.

Sepintas memang tidak ada yang aneh jika kita melihat uang kuno tersebut. Ukuran dan materialnya pun sangat mirip dengan koin Rp 500 bergambar bunga melati tahun 2003 yang kini sudah jarang pula kita lihat.

Namun menurut Adkhilni M. Sidqi justru penemuan koin 25 sen ini menyimpan banyak cerita dari masa lalu.

Yang paling menarik dilihat dari koin 25 sen ini adalah penggunaan aksara arab di atas lambang garuda pancasila.

Ternyata Indonesia pernah mencetak koin dengan tulisan Arab, yakni pada uang 1 sen (1952), 5 sen (1951—1954), 10 sen (1951—1954), dan 25 sen (1952). Setelah itu aksara Arab dalam mata uang Indonesia lenyap dan digantikan seluruhnya dengan huruf latin.

“Mengapa Indonesia menggunakan aksara Arab?” tanya si penjual koin kepada Sidqi.

Pertanyaan si penjual koin membuat Sidqi terus bertanya tanya dan penasaran akan jawaban sebenarnya. Didorong oleh rasa penasaran, penemuan koin ini menuntun Sidqi untuk terus menggali lebih dalam tentang sejarah aksara Arab.

Dalam postingan Sidqi yang berjudul “BUTA HURUF DAN AKSARA ARAB DI KOIN INDONESIA”, ia menjelaskan bahwa sebelum masa kolonial Belanda, bahasa Arab Melayu/Jawi/Pegon luas digunakan sebagai sastra, pendidikan, dan bahasa resmi kerajaan di seluruh Nusantara.

Surat-surat raja Nusantara, stempel kerajaan, serta mata uang pun ditulis dalam aksara Arab Melayu. Kesultanan Pasai Aceh, Kerajaan Johor dan Malaka, Kesultanan Pattani pada abad 17, secara resmi menggunakan bahasa Arab Melayu sebagai aksara kerajaan.

Hubungan diplomatik kerajaan-kerajaan Nusantara dalam kesepakatan perjanjian perjanjian resmi dengan Inggris, Portugis, maupun Belanda pun menggunakan aksara Arab Melayu.

Karya karya sastra kuno seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Amir Hamzah, Syair “Singapura Terbakar” karya Abdul Kadir Munsyi (1830), juga karya-karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan tafsir Qur’an karya Kyai Saleh Darat ditulis dengan aksara Arab Pegon.

Tak heran jika jauh sebelum era kemerdekaan, hampir 90 persen rakyat Indonesia pada era itu buta huruf latin namun fasih dalam baca tulis arab.

Akan tetapi, lambat laun pengaruh kuat dominasi kolonial Belanda menggeser kejayaan aksara Arab. Terlebih lagi pada pergantian abad ke-19, media penerbitan secara besar-besaran mencetak huruf latin sebagai media komunikasi massa.

Saat kemerdekaan, Pemerintah Indonesia juga lebih memilih untuk melestarikan aksara latin.

Sidqi membuat kesimpulan bahwa aksara sebagai rekaan bahasa tidak hanya memberi tanda dan makna, tetapi juga merupakan gambaran kekuasaan yang dominan di masyarakat pada masa itu.

Pada uang koin 25 sen ini, terekam dengan jelas bagaimana budaya Indonesia tumbuh mengikuti dominasi budaya penguasa pada setiap zamannya.

Thursday, 30 July 2015

Info-info Sejarah Menarik Kota Bogor

Info-info Sejarah Menarik Kota Bogor
1. BOGOR PADA ABAD KE-5
Kabarnya, berdirinya kota ini diawali pada abad ke-5, dengan adanya Kerajaan Tarumanegara yang merupakan kerajaan Hindu. Mereka beruntung karena menempati lokasi alam pegunungan yang subur, indah, dan tepat untuk menghindari serangan dari luar. Lalu, kerajaan-kerajaan lain pun ikut menempati daerah ini. Jadilah tempat ini sentra perdagangan.

Sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan bukti-bukti yang kuat bahwa kerajaan yang merupakan cikal bakal Kota Bogor ini pernah ada.

2. BOGOR PADA MASA KERAJAAN SUNDA
Sampailah kita pada masa-masa di mana Kota Bogor sudah tampak budaya Sundanya. Banyak prasasti yang ditemukan di kota ini, yang memberitahukan tentang kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda. Prasasti itu tercatat tahun 1533.

Prasasti ini masih terawat dengan baik, karena dipercaya memiliki kekuatan gaib. Kerajaan Sunda disebut juga Kerajaan Padjajaran karena ibukotanya di Pajajaran. Wilayah kekuasaannya mencakup seluruh Jawa Barat, Jakarta, Banten, Lampung, dan wilayah selatan Sumatera. Kerajaan ini diyakini terletak di Bogor.

3. BOGOR PADA MASA KOLONIAL BELANDA
Awal pendudukan Belanda adalah ketika Belanda melakukan ekspedisi pencarian hilangnya Kota Pakuan (Padjajaran). Ekspedisi ini dilaksanakan tahun 1687, dipimpin oleh Scipio dan Riebeck. Dari hasil penelitian Prasasti Batutulis, disimpulkan bahwa pusat Kerajaan Padjajaran ada di Bogor.

Lalu, ketika Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Bogor dengan Batavia dibuat, Gustaf Willem Baron van Imhoff yang kala itu sebagai Gubernur Jenderal, membangun Istana Bogor sebagai tempat peristirahatan. Sejak itu, Bogor mulai berkembang.

4. BOGOR PADA MASA HINDIA BELANDA DAN PENDUDUKAN JEPANG
Orang-orang Belanda masih terus mencengkeramkan kukunya di tanah air. Mereka pun mengganti sistem pemerintahan tradisional menjadi modern. Hal ini diberlakukan di mana saja, termasuk Bogor.

Pemberlakukan ini dimulai ketika pemerintahan kembali ke tangan Hindia Belanda, tahun 1903. Bogor pun menjadi kotapraja.

Pada masa pendudukan Jepang, kedudukan Kota Bogor semakin lemah, karena pemerintahan dipusatkan di tingkat yang lebih tinggi, yaitu karesidenan. Hal ini terjadi mulai tahun 1942.

5. BOGOR PADA MASA KINI
Semenjak 1950 hingga 1999, Kota Bogor mengalami peningkatan kedudukan, menjadi Kota Bogor. Meskipun berkali-kali mengalami perubahan, keindahan alam Kota Bogor masih menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi keadaan cuacanya sangat berbeda dari Kota Jakarta yang panas.

Itulah sejarah Kota Bogor dari masa ke masa. Kota yang nyaman untuk dihuni, sekaligus sebagai tujuan wisata.

Bagi penduduk Jakarta yang sudah tidak tahan lagi dengan cuaca panas, boleh saja sekali-sekali “ngadem” di Bogor.

Friday, 5 June 2015

Pancasila dan mitologi moralnya

Pancasila dan mitologi moralnya
1 Juni 1945, Pancasila lahir. Seperti biasa, tidak ada gaung yang serius atau resonasi yang mampu membuat anak bangsa bergegas memperhatikan dan melakukan sesuatu secara konkret. Malah, Gaungnya kalah dengan suara misterius yang terjadi di Amerika dan Eropa. Atau kalah diperihatinkan ketimbang dibekukannya PSSI.

Sepertinya setiap tahun, kita mulai semakin lamat-lamat dan abai. Lupa bahwa Pancasila dirumuskan oleh para bapak pendiri bangsa dari roh yang diperas dari jiwa dan semangat membangun sebuah negara yang kuat dan adil sejahtera, setelah dijajah ratusan tahun secara jiwa dan raga. Lupa bahwa Pancasila berakar dari esensi moral bangsa. Bahwa pancasila bukan butuh sekedar dirituali semata. Ia punya tujuan kebangsaan yang berkarakter -yang harus menjadi bentuk dalam bangsa.

Sayangnya, Pancasila, semakin hari semakin hanya sekedar artefak, sebagai puing-puing gagasan masa lalu yang diawetkan di dalam sebuah kotak kaca di museum politik dan sebagai tontonan yang gamang dan berjarak dimaknai. Para politisi sibuk dengan kekuasaan dan rakyatnya sibuk dengan urusan nafkah yang tercecer.

Kita melihat hari ini, Pancasila, seperti halnya Soekarno, adalah retorika politik yang diagungkan seperti halnya mitos-mitos tanpa bukti yang dinikmati kisahnya. Dengan Pancasila, bagaimana kita bisa memahami makna keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dari perspektif yang berbeda, ketika kita melihat kekayaan bangsa ini hanya dinikmati hanya 40 atau 200 orang saja. Sementara kemiskinan absolut adalah realitas jutaan masyarakat lainnya.

Ada pernyataan yang menarik dari Hadiyanto  Direktur Jenderal (Dirjen) Kekayaan Negara Kementerian Keuangan bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang tak terbatas, sulit dihitung.

"Kekayaan negara nggak bisa dihitung, karena nggak terhingga. Semua hal bumi, air dan kekayaan menurut Pasal 33 belum ada neracanya, berat karena udara juga harus dihitung. Kita kaya sekali," katanya.

Pernyataan ini, tentu ironis dengan fakta bahwa ada 120 juta penduduk Indonesia dengan pengahasilan sekitar dibawah 18 ribu rupiah per hari di tahun 2012 versi WorldBank. Dan ini yang disebut sebagai kemiskinan absolut. Sementara pemerintah mematok berbeda. Kemiskinan absolut adalah mereka yang berpenghasilan Rp 7800 per hari. Jadi jumlahnya turun sekitar 45% dari versi WorldBank.  Reduksi ini, tentu adalah pengabaian atau sikap tidak serius dalam mengimplementasikan Pancasila. JIka penguasanya bersikap abai terhadap moral Pancasila, lalu, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti apa yang bisa dipahami dengan akal sehat seperti ini?

Tentu saja, ini masih hanya satu sudut kecil yan bisa kita lihat tentang Pancasila. Kita belum menyertakan sudut-sudut lain, seperti bagaimana isi pelbagai regulasi yang diciptakan di masa reformasi menaungi para orang kaya yang berbisnis dan berpolitik dan meminggirkan rakyat dari naungan payung undang-undang tersebut. Atau bagaimana jumlah koruptor yang tidak pernah habis-habisnya.

Jadi, kita harus memahami Pancasila seperti ini, Pancasila hanya sebuah gagasan politik yang kebetulan Soekarno mampu mencangkokkannya di dalam sistem politik kita. Tetapi, politik adalah kebudayaan yang terus bergerak dan dinamis.-yang kemudian menjadi utopia, ketika kebudayaan lain yang lebih besar dan kuat lebih mampu mejejalkan hegemoni pemikiran pedagang besar ke dalam anggota masyarakat yang kemudian menjadi pemimpin.

Pancasila, percayalah, bila Rachmawati Soekarnoputri saja, tidak percaya terhadap niat para penguasa bahkan kepada saudaranya akan menjalankan Pancasila seperti gagasan Soekarno -kita mungkin harus sadar kini, bahwa Pancasila dilahirkan sebagai mitos moral dan ditakdirkan sebagai retorika semata. Tidak akan lebih. Kecuali ada kehendak lain dari Anda, segenap rakyat Indonesia.

sumber

Monday, 19 January 2015

Asal Mula Adanya Lampu Lalu Lintas

Asal Mula Adanya Lampu Lalu Lintas
Traffic light mulai dikenal pada tahun 1868, ketika kendaraan bermotor sudah mulai digunakan. Lampu lalu lintas pertama kali digunakan di London, dekat gedung parlemen. Pada saat itu, lampunya hanya terdiri dari dua warna, merah dan hijau. Sayangnya, pada tahun 1869, lampu itu meledak dan menewaskan seorang petugas lalu lintas yang berada di dekatnya. Kemudian, seorang berkebangsaan Amerika, Garrett Augustus Morgan mengembangkan lampu lalu lintas yang lebih aman, yaitu dengan penambahan warna kuning. Adanya lampu kuning dapat memberi jeda pada waktu lampu akan berganti warna sehingga pengguna jalan dapat mengurangi kecepatan ketika lampu kuning menyala.


Ketiga warna tersebut ternyata mengandung filosofi juga, lho. Warna merah identik dengan darah. Pada masa peperangan dulu, pertumpahan darah terjadi dimana-mana, menyisakan luka dan kematian. Kemudian muncullah sekelompok orang yang anti peperangan, maka dibuatlah peraturan larangan berperang dan saling melukai. Sejak saat itu warna merah digunakan untuk lambang larangan atau stop.

Warna kuning identik dengan api yang memiliki dua pilihan, yaitu api kecil yang mampu dikendalikan dan menjadi bermanfaat atau api besar yang tak terkendali sehingga menjadi berbahaya. Zaman peperangan dulu, manusia mengamati musuhnya berdasarkan api karena api digunakan untuk berbagai hal seperti penerangan dan memasak. Jika terlihat api dari kelompok musuhnya, maka prajurit akan berhati-hati atau bersiap-siap menghadapi musuh. Warna kuning juga identik dengan warna daun yang sudah tua, artinya daun itu sebentar lagi gugur dan digantikan yang masih segar sehingga warna kuning juga melambangkan transisi atau peralihan. Itulah alasan warna kuning menjadi simbol hati-hati atau waspada.


Warna hijau identik dengan daun. Meskipun tidak semua daun berwarna hijau dan warna hijau setiap tanaman juga tidak selalu sama, tapi hampir semua tanaman mengandung warna hijau. Keberagaman tanaman ini dapat dilihat sebagai kebebasan, setiap tanaman bebas berwarna hijau. Warna hijau juga merupakan warna yang menyegarkan mata, terutama untuk terapi sehingga warna ini aman untuk mata. Itulah mengapa warna hijau dipilih menjadi simbol bebas dan aman untuk berjalan pada lampu lalu lintas.

Lampu lalu lintas disusun secara vertikal dengan urutan warna merah yang paling atas, kemudian kuning, dan hijau yang paling bawah untuk memudahkan pengguna jalan yang buta warna. Warna merah mengandung corak warna jingga, sedangkan warna hijau mengandung corak warna biru sehingga orang yang buta warna merah dan hijau masih dapat membedakan lampu mana yang sedang menyala.

Friday, 14 November 2014

Sejarah Uang Indonesia

Sejarah Uang Indonesia

Keadaan ekonomi di Indonesia pada awal kemerdekaan ditandai dengan hiperinflasi akibat peredaran beberapa mata uang yang tidak terkendali, sementara Pemerintah RI belum memiliki mata uang. Ada tiga mata uang yang dinyatakan berlaku oleh pemerintah RI pada tanggal 1 Oktober 1945, yaitu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda, dan mata uang De Javasche Bank.

 
Mata uang Hindia Belanda dan mata uang De Javasche bank

Diantara ketiga mata uang tersebut yang nilai tukarnya mengalami penurunan tajam adalah mata uang Jepang. Peredarannya mencapai empat milyar sehingga mata uang Jepang tersebut menjadi sumber hiperinflasi. Lapisan masyarakat yang paling menderita adalah petani, karena merekalah yang paling banyak menyimpan mata uang Jepang.


Mata uang Jepang (Dai Nippon Teikoku Seihu)


Kekacauan ekonomi akibat hiperinflasi diperparah oleh kebijakan Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Letjen Sir Montagu Stopford yang pada 6 Maret 1946 mengumumkan pemberlakuan mata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNEI. Kebijakan ini diprotes keras oleh pemerintah RI, karena melanggar persetujuan bahwa masing-masing pihak tidak boleh mengeluarkan mata uang baru selama belum adanya penyelesaian politik. Namun protes keras ini diabaikan oleh AFNEI. Mata uang NICA digunakan AFNEI untuk membiayai operasi-operasi militernya di Indonesia dan sekaligus mengacaukan perekonomian nasional, sehingga akan muncul krisis kepercayaan rakyat terhadap kemampuan pemerintah RI dalam mengatasi persoalan ekonomi nasional.

Karena protesnya tidak ditanggapi, maka pemerintah RI mengeluarkan kebijakan yang melarang seluruh rakyat Indonesia menggunakan mata uang NICA sebagai alat tukar. Langkah ini sangat penting karena peredaran mata uang NICA berada di luar kendali pemerintah RI, sehingga menyulitkan perbaikan ekonomi nasional.


Mata uang NICA

Oleh karena AFNEI tidak mencabut pemberlakuan mata uang NICA, maka pada tanggal 26 Oktober 1946 pemerintah RI memberlakukan mata uang baru ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai alat tukar yang sah di seluruh wilayah RI. Sejak saat itu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda dan mata uang De Javasche Bank dinyatakan tidak berlaku lagi. Dengan demikian hanya ada dua mata uang yang berlaku yaitu ORI dan NICA. Masing-masing mata uang hanya diakui oleh yang mengeluarkannya. Jadi ORI hanya diakui oleh pemerintah RI dan mata uang NICA hanya diakui oleh AFNEI. Rakyat ternyata lebih banyak memberikan dukungan kepada ORI. Hal ini mempunyai dampak politik bahwa rakyat lebih berpihak kepada pemerintah RI dari pada pemerintah sementara NICA yang hanya didukung AFNEI.

Untuk mengatur nilai tukar ORI dengan valuta asing yang ada di Indonesia, pemerintah RI pada tanggal 1 November 1946 mengubah Yayasan Pusat Bank pimpinan Margono Djojohadikusumo menjadi Bank Negara Indonesia (BNI). Beberapa bulan sebelumnya pemerintah juga telah mengubah bank pemerintah pendudukan Jepang Shomin Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Tyokin Kyoku menjadi Kantor Tabungan Pos (KTP) yang berubah nama pada Juni 1949 menjadi Bank tabungan Pos dan akhirnya di tahun 1950 menjadi Bank Tabungan Negara (BTN). Semua bank ini berfungsi sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah RI. Fungsi utamanya adalah menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat serta pemberi jasa di dalam lalu lintas pembayaran.

Terbentuknya Bank Indonesia
Jauh sebelum kedatangan bangsa barat, nusantara telah menjadi pusat perdagangan internasional. Sementara di daratan Eropa muncul lembaga perbankan sederhana, seperti Bank van Leening di negeri Belanda. Sistem perbankan ini kemudian dibawa oleh bangsa barat yang mengekspansi nusantara pada waktu yang sama. VOC di Jawa pada 1746 mendirikan De Bank van Leening yang kemudian menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank itu adalah bank pertama yang lahir di nusantara, cikal bakal dari dunia perbankan pada masa selanjutnya. Pada 24 Januari 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan bank sirkulasi dengan nama De Javasche Bank (DJB). Selama berpuluh-puluh tahun bank tersebut beroperasi dan berkembang berdasarkan suatu oktroi dari penguasa Kerajaan Belanda, hingga akhirnya diundangkan DJB Wet 1922.

Masa pendudukan Jepang telah menghentikan kegiatan DJB dan perbankan Hindia Belanda untuk sementara waktu. Kemudian masa revolusi tiba, Hindia Belanda mengalami dualisme kekuasaan, antara Republik Indonesia (RI) dan Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA). Perbankan pun terbagi dua, DJB dan bank-bank Belanda di wilayah NICA sedangkan "Jajasan Poesat Bank Indonesia" dan Bank Negara Indonesia di wilayah RI. Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 mengakhiri konflik Indonesia dan Belanda, ditetapkan kemudian DJB sebagai bank sentral bagi Republik Indonesia Serikat (RIS). Status ini terus bertahan hingga masa kembalinya RI dalam negara kesatuan. Berikutnya sebagai bangsa dan negara yang berdaulat, RI menasionalisasi bank sentralnya. Maka sejak 1 Juli 1953 berubahlah DJB menjadi Bank Indonesia, bank sentral bagi Republik Indonesia.

Banyak orang lupa, bahwa Yogyakarta selama empat tahun pernah menjadi ibukota Republik Indonesia. Tepatnya pada 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949 ibukota Republik Indonesia ada di Yogyakarta.

Berpindahnya ibukota RI saat itu bukan tanpa alasan, situasi Jakarta kala itu dalam kondisi tidak aman dan roda pemerintahan RI macet total akibat adanya unsur-unsur yang saling berlawanan. Di satu pihak masih adanya pasukan Jepang yang memegang satus quo, di pihak lain adanya sekutu yang diboncengi NICA. Singkatnya, situasi Jakarta makin genting dan keselamatan para pemimpin bangsa pun terancam. Atas inisiatif HB IX, ibukota RI berpindah ke Yogyakarta. Hijrah ibukota RI itu merupakan atas nasehat dan prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan dari Yogyalah persoalan politik bangsa dikoordinasikan. Semua itu bisa berhasil dengan baik berkat kepemimpinan HB IX.

Dipilihnya Yogya sebagai ibukota RI karena pandangan politik ke depan dan keberanian Sultan HB IX mengambil resiko. Sehingga dapat dikatakan HB IX dan masyarakatnya merupakan penyambung kelangsungn RI dalam menghadapi agresi militer Belanda. Sri Sultan Hamengkubuwono IX merupakan aktor intelektualis yang memiliki multi status. Selain sebagai Raja, kepala derah, menteri pertahanan, Sultan adalah key person dan juru runding dengan Belanda, juga sebagai figur kunci birokrasi sipil di Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang aslinya bernama G.R.M Dorojatun, sejak diangkat menjadi Sultan 18 Maret 1940, menggantikan ayahnya Sri Sultan HB VIII sudah dekat dengan kalangan rakyat dan tentu saja beliau memahami aspirasi rakyat, termasuk penderitaan dan harapannya semasa penjajahan Belanda dan Jepang.

Karena perpindahan ibukota inilah maka semua Uang ORI yang diterbitkan pada tahun 1946 s/d 1949 yaitu seri ORI II, III, IV dan ORI Baru tercantum kata2 Djokjakarta. Bukan lagi Djakarta seperti pada seri ORI I.


Seri ORI I (Djakarta, 17 Oktober 1945)


Seri ORI II (Djokjakarta, 1 Djanuari 1947)


Seri ORI III (Djogjakarta, 26 Djuli 1947)


Seri ORI IV (Jogjakarta, 23 Agustus 1948)


Seri ORI Baru (Djogjakarta, 17 Agustus 1949)



Sekian dulu informasi Sejarah Uang Indonesia