Sunday, 5 June 2011

Berbagai Legenda Surabaya

Siapa yang tak kenal dengan kota Surabaya? Kota yang mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan ini berada di provinsi Jawa Timur, berdekatan dengan pulau Madura yang ada di timur laut pulau Jawa.

Kota Surabaya yang menjadi ibu kota Jawa Timur ini merupakan kota metropolitan yang terkenal panas. Surabaya identik dengan ciri khasnya berupa Tugu Pahlawan, Jembatan merah, atau patung yang menjadi simbol kota Surabaya itu sendiri, yaitu patung ikan hiu dan buaya yang saling bergelut.

Patung ikan hiu dan buaya yang tampak sedang berkelahi itu bukan sekadar patung. Patung tersebut menggambarkan Legenda Surabaya yang terjadi bertahun-tahun silam. Tapi banyak sekali versi yang menceritakan tentang legenda terjadinya kota Surabaya ini.


Versi 1 : Ikan Hiu Sura dan Buaya

Dahulu hidup dua hewan yang begitu kuat, yaitu ikan hiu Sura dan buaya (dalam bahasa Jawa diucapkan sebagai Baya). Sura dan Baya ini digambarkan sebagai hewan yang sangat kuat, tidak pernah mau mengalah satu sama lain, dan selalu berebut wilayah.

Kedua hewan ini akhirnya membuat suatu kesepakatan tentang wilayah agar mereka tidak berkelahi lagi. Sura menguasai air, sedangkan Baya menjadi penguasa daratan. Tapi akhirnya terjadi kesalah pahaman di antara mereka saat Sura berburu mangsa di sungai. Baya menganggap sungai adalah air di atas daratan, yang berarti menjadi wilayah kekuasaannya, tapi Sura bersikeras kalau sungai hanyalah kumpulan air yang sama seperti lautan.

Akhirnya kedua hewan kuat itu kembali berkelahi tanpa henti, saling bergelut dan tidak pernah ada yang menang atau kalah. Keduanya baru berhenti setelah saling menggigit ekor dan kelelahan. Dari peristiwa itu, akhirnya masyarakat menamai tempat tinggal mereka dari nama-nama dua hewan kuat tersebut, yaitu Sura dan Baya, menjadi Surabaya.


Versi 2: Sura dan Baya adalah Jelmaan Manusia

Legenda Surabaya yang lain menyebutkan, bahwa dahulu di khayangan hidup seorang putri bernama Widuri. Di lain pihak, ada Ambarukmo yang ingin membalas dendam pada raja dan ratu yang dulu pernah mengusirnya dari khayangan. Akhirnya Ambarukmo menjatuhkan tusuk konde emas milik putri Widuri ke bumi.

Tusuk konde itu lalu menciptakan aliran sungai di bumi dengan air yang berwarna keemasan dan disebut dengan Kalimas (sungai emas). Putri Widuri akhirnya turun ke bumi untuk mengambil tusuk kondenya, tapi sayangnya ia tidak bisa menemukan benda yang ia cari. Widuri pun lalu menetap di bumi karena ia tidak bisa kembali lagi ke khayangan.

Usaha Ambarukmo untuk mengusir Widuri berhasil, tapi ia menginginkan tusuk konde emas milik sang putri. Ambarukmo akhirnya menyuruh kedua muridnya bernama Rangin dan Panji untuk mengambil tusuk konde emas yang ada di bumi dengan memberi iming-iming kalau mereka berhasil mendapatkan tusuk konde itu, mereka berdua akan mendapatkan cinta dari Widuri.

Rangin dan Panji yang suka sekali bersaing ini akhirnya turun ke bumi dan menemukan tusuk konde emas. Ambarukmo dengan licik lalu mengubah Rangin dan Panji menjadi ikan hiu bernama Sura dan buaya (Baya). Keduanya lalu diadu domba, bergelut habis-habisan memperebutkan tusuk konde emas.

Tapi akhirnya kedua murid ini sadar telah diperalat, mereka pun akhirnya menyerang guru mereka dengan buas. Sang guru tewas mengenaskan, sedang Sura dan Baya yang kelelahan ikut tewas setelah berhasil menyerahkan tusuk konde emas pada sang Putri Widuri. Karena itu, demi mengingat jasa kedua murid yang telah menemukan tusuk konde emas tersebut, kota itu akhirnya memakai nama Sura dan Baya.

Itu adalah dua versi tentang legenda Surabaya yang sangat melekat di hati rakyat Kota Pahlawan itu. Tapi ada beberapa juga yang menyebutkan bahwa nama kota Surabaya bukan diambil dari nama hewan ikan hiu dan buaya.


Versi 3 : Surabaya berarti Selamat dari Bahaya

Legenda Surabaya yang lain menyebutkan bahwa nama kota itu sendiri diambil setelah terjadi perang besar. Sura berarti selamat, sedangkan baya adalah bahaya, jadi kota Surabaya berarti selamat dari bahaya. Hal ini menggambarkan peristiwa lampau saat ada sekelompok pasukan Tar-Tar yang menyerang raja Jawa bernama Jayakatwang. Tapi akhirnya pasukan Tar-Tar ini dikalahkan oleh Raden Wijaya. Dari kemenangan itulah akhirnya muncul nama Surabaya yang berarti selamat dari bahaya.

No comments:

Post a Comment