Tuesday, 27 March 2012

SBY Galau, Investor Ragu Bertindak


Bisa dipastikan, beberapa hari belakangan ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang galau. Sebab, seperti pernah dikatakannya, saat ini pemerintah tak tahan lagi menanggung beban subsidi BBM.

Masalah itu tak bisa diatasi hanya dengan penghematan. Nah, yang bikin presiden galau, karena ia merasa sudah mengikari janjinya untuk tidak menaikan harga BBM. Berat, memang. Tapi tak ada pilihan lain yang lebih tepat.

Yang disesalkan oleh banyak orang, Pemerintahan SBY tak tegas sehingga rencana kenaikan harga BBM terlanjur menimbulkan persoalan lain. Mulai dari aksi demo mahasiswa, melonjaknya harga-harga, hingga penimbunan BBM. “Jangan membuat masyarakat bingung, putuskan berapa kenaikannya. Yang penting, subsidi untuk rakyat miskin jangan sampai hilang,” kata seorang analis.

Belum ada kepastian inilah yang membuat investor di pasar modal ragu untuk melangkah. Maklum, jika benar pemerintah akan menaikan harga BBM sebesar Rp1.500 per liter atau 30%, hampir bisa dipastikan inflasi akan meroket dan BI rate kemungkinan akan naik. Inilah yang membuat investor tidak berani melakukan investasi jangka pendek, apalagi panjang. Makanya, investor cenderung menunggu dan tidak agresif.

Makanya, Parningotan Julio, analis Batavia Prosperindo, memprediksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini tak akan beredar jauh dari rentang 4.000-4.040. “Melemahnya ekonomi China dan tingginya yield obligasi Spanyol bisa diartikan sebagai pertanda pelambatan ekonomi,” katanya.

Hal serupa juga dikemukakan Felix Sindhunata, analis Henan Putihrai Securities. Ia memperkirakan indeks akan bergerak di kisaran 4.010-4.075. Sekali lagi, aksi demo dan rencana kenaikan harga BBM menjadi momok utama bagi para investor. Apalagi harga minyak mulai meroket setelah tersiar kabar bahwa ekspor minyak Iran mengalami penurunan 300 ribu barel per hari akibat embargo negara-negara Barat.

Selasa kemarin (26/3), harga minyak di New York Marcantile Exchange menguat 1,4% ke level US$106,87 per barel. Harga minyak akan terus meroket karena penurunan ekspor minyak Iran diperkirakan akan mencapai 800 ribu barel per hari.

Waduh! Lantas, saham apa saja yang masih mungkin dimainkan saat ini? Sejumlah analis mengungkapkan hal senada, pasar modal masih akan digairahkan oleh saham tambang dan perkebunan yang disebut-sebut tidak terpengaruh inflasi. Makanya, saham PT Aneka Tambang (ANTM), PT Gas Negara (PGAS), PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) dan PT Astra Internasional (ASII) mendapat rekomendasi untuk dimainkan. [mdr]

INILAH.COM

No comments:

Post a Comment